Skip to Content

Tampilan Modern, Pengguna Kebingungan: Sisi Lain Tren UI Design

October 26, 2026 by
Tampilan Modern, Pengguna Kebingungan: Sisi Lain Tren UI Design
Olvy

Pernah membuka aplikasi yang baru diperbarui, lalu berpikir:

“Bagus, sih. Tapi tombol yang biasa saya pakai pindah ke mana?”

Tampilannya lebih rapi. Ada animasi halus, kartu transparan, bahkan asisten AI. Namun, pekerjaan sederhana yang sebelumnya langsung selesai sekarang mengharuskan Anda mencari menu lagi.

Di situlah persoalan yang sering luput ketika kita membahas tren UI design.

Tampilan modern belum tentu lebih mudah digunakan. Perubahan desain baru membantu jika pengguna lebih mudah memahami pilihan, menyelesaikan pekerjaan, dan memperbaiki kesalahan.

UI, atau user interface, adalah bagian aplikasi yang kita lihat dan gunakan: tombol, menu, kolom isian, hingga susunan informasi. Karena itu, kualitasnya perlu dinilai dari apa yang terjadi saat dipakai sehari-hari.

1. Setiap perubahan tampilan punya “biaya belajar ulang”

Bayangkan laci dapur Anda menata ulang isinya setiap pagi. Sendok berpindah karena kemarin jarang dipakai. Gelas bergeser karena sistem memperkirakan Anda akan membutuhkan barang lain.

Mungkin susunannya dianggap lebih pintar. Tetapi Anda tetap harus mencari.

Hal serupa bisa terjadi pada UI adaptif, yaitu tampilan yang berubah mengikuti perilaku atau perkiraan kebutuhan pengguna.

Ketika posisi menu terus berubah, kebiasaan yang sebelumnya membantu pengguna bekerja cepat bisa kehilangan manfaatnya. Waktu yang semula dipakai menyelesaikan tugas bergeser menjadi waktu untuk memahami susunan baru.

Biaya belajar ulang dibayar oleh pengguna, meskipun tidak tercatat dalam anggaran redesign.

Bukan berarti tampilan harus selamanya sama. Yang perlu dipertimbangkan adalah bagian mana yang boleh berubah dan bagian mana yang menjadi pegangan.

Rekomendasi konten bisa berganti. Sementara itu, akses ke laporan, bantuan, dan pengaturan dapat dipertahankan agar mudah ditemukan. Jika pengguna bisa mengatur susunan sendiri, berikan juga pilihan untuk mempertahankannya.

2. Personalisasi bisa mempersulit orang untuk saling membantu

“Klik menu di sebelah kiri.”

“Di layar saya tidak ada.”

Percakapan itu menggambarkan persoalan lain: aplikasi sering digunakan sebagai bagian dari kerja bersama.

Personalisasi UI berarti menyesuaikan tampilan atau isi untuk setiap pengguna. Manfaatnya bisa terasa secara individual. Namun, bagaimana jika penyesuaian tersebut membuat dua rekan kerja melihat susunan yang sangat berbeda?

Panduan menjadi lebih sulit diikuti. Tim bantuan perlu mencari tahu versi tampilan pengguna. Karyawan baru tidak selalu bisa meniru langkah yang diperlihatkan rekannya.

Perbedaan karena hak akses memang terkadang diperlukan. Tetapi perubahan tambahan yang hanya didasarkan pada perkiraan sistem tetap perlu dinilai manfaatnya.

Desain perlu memudahkan pengguna bekerja sendiri sekaligus menjelaskan pekerjaannya kepada orang lain.

Beberapa pegangan sederhana adalah nama menu yang konsisten, pencarian fitur, tautan langsung ke halaman, dan pilihan kembali ke tampilan standar.

​

3. Minimalisme bisa memindahkan kerumitan ke kepala pengguna

Layar kosong sering terlihat bersih. Namun, bersih secara visual belum tentu jelas secara penggunaan.

Misalnya, tombol bertuliskan “Unduh laporan” diganti menjadi ikon tanpa label. Desainnya lebih ringkas, tetapi pengguna baru harus menebak maknanya.

Atau, lima pilihan disembunyikan dalam satu menu tambahan. Layar terlihat sederhana, tetapi pekerjaan yang rutin dilakukan membutuhkan langkah ekstra.

Kerumitannya belum tentu hilang. Sebagian hanya berpindah dari layar ke pikiran pengguna.

Dalam desain, ada istilah beban kognitif. Sederhananya, ini adalah usaha mental untuk memahami sesuatu. Pengguna menanggung beban ini ketika harus mengingat lokasi fitur, menafsirkan ikon, atau menebak langkah selanjutnya.

Karena itu, sebelum menghapus suatu elemen, tanyakan:

Apakah elemen ini mengganggu, atau justru membantu pengguna memahami apa yang harus dilakukan?

Label singkat, petunjuk isian, dan informasi status dapat membuat layar sedikit lebih penuh sekaligus membuat pekerjaan lebih ringan.

4. Chatbot bisa membuat tugas sederhana terasa seperti menulis permohonan

Bayangkan Anda hanya ingin mengunduh laporan bulan lalu.

Pada satu aplikasi, Anda memilih periode lalu menekan “Unduh”. Pada aplikasi lain, Anda harus menulis permintaan, menjawab pertanyaan lanjutan, dan menunggu hasil.

Percakapan dapat membantu ketika kebutuhan masih terbuka. Contohnya, “Bantu saya memahami mengapa penjualan menurun.”

Namun, untuk tugas yang sudah jelas, kontrol langsung seperti tombol dan pilihan tanggal layak dipertahankan.

Ada satu hal yang mudah terlewat: kolom chat mengharuskan pengguna tahu cara meminta.

Pengguna pemula mungkin tidak tahu fitur apa yang tersedia atau informasi apa yang harus disebutkan. Layar yang hanya menampilkan “Ada yang bisa saya bantu?” belum tentu memberi arah yang cukup.

Kombinasi bisa lebih membantu: percakapan untuk mengeksplorasi kebutuhan, lalu pilihan visual untuk menentukan periode, memeriksa filter, dan menjalankan tindakan.

5. AI bisa memindahkan pekerjaan dari membuat menjadi memeriksa

AI menghasilkan ringkasan dalam beberapa detik. Terlihat cepat.

Tetapi setelah itu, pengguna mungkin perlu memeriksa sumber, memastikan periode data, mencari bagian yang keliru, lalu meminta perbaikan.

Kecepatan menghasilkan jawaban belum menggambarkan seluruh waktu kerja.

Misalnya, ringkasan penjualan terlihat meyakinkan, tetapi memakai periode yang salah. Jika tanggal dan sumber data tidak diperlihatkan, pengguna harus menyelidikinya sendiri.

Di sini, desain berperan besar. Antarmuka dapat membantu dengan memperlihatkan dasar jawaban, menyediakan pengaturan yang mudah diubah, dan membedakan hasil sementara dari tindakan yang sudah dijalankan.

Pedoman dan perangkat Human-AI Interaction dari Microsoft Research juga mencakup perencanaan pengalaman ketika AI menghadapi kegagalan, bukan hanya ketika semuanya berjalan lancar.[1]

Ukuran yang lebih berguna adalah waktu sampai hasil siap digunakan, termasuk pemeriksaan dan perbaikannya.

Pertanyaan desainnya sederhana: ketika AI salah, apakah pengguna punya jalan yang jelas untuk memperbaikinya?

6. Tampilan yang cantik perlu bertahan saat kondisi tidak ideal

Contoh desain sering memperlihatkan data yang rapi: nama pendek, gambar lengkap, dan judul yang pas dalam satu baris.

Sekarang bayangkan kondisi berbeda. Nama pelanggan panjang. Gambar tidak tersedia. Pengguna memperbesar teks. Koneksi melambat.

Apakah informasinya masih jelas?

Efek transparan perlu tetap terbaca saat latarnya berubah. Kartu harus menampung isi yang lebih panjang. Informasi penting perlu tetap tersedia ketika animasi dikurangi.

Ini bukan sekadar urusan selera. Panduan W3C menjelaskan bahwa gerakan tertentu dapat mengganggu sebagian pengguna. Pada kriteria animasi dari interaksi tingkat AAA, animasi gerak yang tidak esensial dapat dinonaktifkan.[2]

Cara sederhana menilai ketahanan desain adalah mencoba layar dengan konten yang menyulitkan:

  • Judul dan nama yang jauh lebih panjang.
  • Data kosong atau belum lengkap.
  • Ukuran teks yang diperbesar.
  • Kondisi gagal dan proses yang belum selesai.
  • Preferensi pengurangan animasi.

Desain yang baik tetap memberi arah ketika keadaan tidak sesuai contoh ideal.

7. Pengguna yang lebih lama berada di aplikasi belum tentu lebih puas

Durasi penggunaan sering terlihat menarik dalam laporan. Tetapi angka yang sama bisa memiliki arti berbeda.

Seseorang membaca artikel lebih lama karena tertarik. Orang lain menghabiskan waktu lebih lama di halaman pembayaran karena kesulitan menemukan langkah berikutnya.

Untuk aplikasi kerja, pengguna mungkin justru senang jika tugas selesai lebih cepat dan mereka bisa menutup aplikasi.

Karena itu, jangan menilai perubahan UI hanya dari jumlah klik atau lama kunjungan. Hubungkan ukurannya dengan tujuan pengguna.

Untuk fitur pencarian laporan, misalnya, perhatikan apakah pengguna menemukan laporan yang benar, berapa banyak salah langkahnya, dan apakah mereka perlu meminta bantuan.

Kesibukan di dalam aplikasi tidak selalu sama dengan keberhasilan menggunakan aplikasi.

Cara memilih tren UI design yang benar-benar membantu

Sebelum menerapkan gaya atau fitur baru, tulis dulu satu masalah pengguna yang ingin diselesaikan.

“Pengguna sulit menemukan status pesanan” lebih jelas daripada “halaman perlu terlihat modern”.

Setelah itu, gunakan lima pertanyaan berikut:

PertanyaanYang perlu diperhatikan
Pekerjaan apa yang menjadi lebih mudah?Sebutkan tugas konkret, seperti mencari pesanan atau memperbaiki isian.
Apa yang harus dipelajari ulang?Periksa perubahan posisi, istilah, ikon, dan urutan langkah.
Apa yang terjadi jika fitur gagal?Sediakan penjelasan dan cara melanjutkan pekerjaan.
Apakah tetap nyaman dalam kondisi berbeda?Coba layar kecil, teks besar, data panjang, dan interaksi tanpa mouse.
Bagaimana manfaatnya akan diuji?Amati penyelesaian tugas, kesalahan, kebutuhan bantuan, dan umpan balik.

Mulailah dari perubahan kecil pada satu alur. Minta pengguna mencoba tugas yang sama pada desain lama dan baru. Perhatikan bagian yang membuat mereka berhenti, ragu, atau mengulang langkah.

Jangan hanya meminta pendapat tentang tampilannya. Lihat apa yang benar-benar terjadi saat digunakan.

FAQ tentang tren UI dan pengalaman pengguna

1. Apakah mengikuti tren UI design itu salah?

Tidak. Tren dapat menjadi sumber ide. Penerapannya perlu disesuaikan dengan pekerjaan pengguna, karakter produk, dan kemampuan tim merawatnya.

2. Apakah desain minimalis selalu lebih mudah digunakan?

Tidak selalu. Desain minimalis membantu jika memperjelas informasi. Jika menghilangkan petunjuk penting, pengguna justru bisa lebih banyak menebak.

3. Apakah semua aplikasi perlu chatbot AI?

Kebutuhannya bergantung pada tugas yang ingin dibantu. Percakapan dapat berguna untuk permintaan terbuka, sementara tombol atau formulir bisa lebih praktis untuk tindakan yang spesifik.

4. Bagaimana mengenali desain UI yang baik?

Pengguna memahami apa yang bisa dilakukan, menemukan langkah berikutnya, dan dapat memperbaiki kesalahan. Penilaiannya perlu dilakukan melalui penggunaan nyata, bukan hanya melihat gambar desain.

Sebelum menambahkan fitur yang terlihat canggih, coba tanyakan:

“Setelah perubahan ini, apa yang tidak perlu lagi dipikirkan atau dikerjakan oleh pengguna?”

Jawaban yang jelas akan memberi arah yang lebih berguna daripada sekadar keinginan agar aplikasi terlihat mengikuti zaman.

Tags